PEMIKIRAN PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA

Sumber: Dokumentasi Pribadi
Learn. Automate. Succeed. Trading made simple for all levels https://helder‑valtrix.org/.

PEMIKIRAN PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA

(Refleksi Kesadaran Pendidikan dan Merdeka Belajar)

Oleh: Pudin, M.Pd.

A. Pemikiran Pendidikan dan Pengajaran Nasional Ki Hajar Dewantara

Pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan dan pengajaran nasional termasuk pemikiran pundamental bagi dasar pendidikan Indonesia. Pemikiran pendidikannya bermula dari keprihatinan terhadap bangsa bumiputra (pribumi) yang saat itu dalam keadaan dijajah oleh Kolonial Belanda di mana hak-hak pendidikan tidak sama dengan kaum bangsawan dan anak-anak pemerintah penjajah. Pemikiran yang pundamental Ki Hajar Dewantara adalah pemikiran pendidikan yang bertujuan menjunjung tinggi harkat dan derajat rakyat Indonesia yang terjajah agar bisa terlepas dari penderitaan dan kesengsaraan di bawah jajahan Belanda. Menurut Ki Hajar Dewantara bahwa kekuatan rakyat dengan segala usaha yang akan membawa bangsa Indonesia mencapai kemakmuran dan kemerdekaan. Kekuatan rakyat tersebut adalah kekuatan yang diperoleh dari proses pendidikan dan pengajaran yang harus dimulai dari bawah (usia dini). Mendidik rakyat yang dimaksud adalah dengan mendidik anak-anak yang kelak akan membawa bangsa Indonesia mempunyai martabat yang tinggi dan terlepas dari belenggu penjajahan.

       Sementara konsep pengajaran menurut Ki Hajar Dewantara di mana sistem pengajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan rakyat untuk memenuhi kebutuhan lahiriahnya. Untuk melaksanakan pengajaran pada rakyat harus dilakukan penelitian kekurangan dan kelemahan rakyat dalam memenuhi kebutuhan lahiriah tersebut. Karena sejatinya pengajaran umumnya adalah untuk memerdekakan lahirian manusia.

       Manusia yang merdeka adalah manusia yang secara lahiriah dan batiniah tidak tergantung pada orang lain, tetapi bersandar pada kekuatan diri sendiri. Hidup merdeka juga, seseorang harus mampu hidup bersama dengan orang lain yang menjadi satu dalam bagian persatuan yang menuntut kemerdekaan. Kemerdekaan yang dimaksud adalah kemerdekaan lahir dan batin dalam mengusahakan kemerdekaan bangsa Indonesia.

      Kesimpulan dari dua tulisan di atas Ki Hajar Dewantara memiliki pemikiran kemerdekaan dalam pengajaran (merdeka belajar) itu memiliki kesadaran yang kuat akan pentingnya belajar, untuk belajar anak-anak tidak hanya diperintah atau menunggu diperintah baru ada kemauan belajar. Melakukan pengajaran di bawah bayang perintah atau pendiktean dari orang lain akan menghasilkan keterpaksaan dan lepasnya jiwa-jiwa merdeka, sehingga kepuasan batiniah dari hasil belajar menjadi berkurang bahkan tidak ada. Hal yang penting dan perlu diperhatikan oleh pelaku pendidikan adalah bagaimana upaya yang harus dilakukan untuk menanamkan kesadaran belajar pada anak-anak, agar dalam kegiatan belajar penuh semangat dan terutama dapat mencapai kepuasan lahir dan batin setelah belajar.

B. Tri Sentra Pendidikan Ki Hajar Dewantara

       Pemikiran Ki Hajar Dewantara lainnya tentang pendidikan adalah gagasanya tentang Tri Sentra Pendidikan (Tiga Pusat Pendidikan). Beliau menerangkan bahwa pendidikan berlangsung di tiga lingkungan, yaitu di keluarga, di sekolah, dan di masyarakat. Ketiga pusat (lingkungan) pendidikan tersebut memiliki peran penting dalam proses pendidikan, serta saling mengisi dan memperkuat satu sama lainnya. Dari pemikiran ini terlihat bahwa pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja melalui sekolah formal, akan tetapi keluarga dan masyarakat ikut bertanggung jawab dalam keberlangsungan pendidikan bagi anak-anak.

1.  Pendidikan di Lingkungan Keluarga

       Keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami, istri, dan anaknya, merupakan lingkungan yang pertama bagi perkembangan dan pertumbuhan anak. Sebenarnya awal pendidikan bagi anak ada di lingkungan keluarga yang disebut dengan pendidikan informal. Dalam lingkungan keluarga, sejak kecil proses pendidikan bagi anak terjadi setiap hari. Dari mulai contoh perilaku orang tua akan diperhatikan anak dan menjadikan sebuah figur dalam budi pekerti anak tersebut. Kemudian, orang tua dengan sengaja memberikan pembelajaran bagi anak-anaknya mulai dari belajar bicara, bergerak, sopan santun, menulis, membaca, menghitung, sampai pembelajaran keterampilan buat bekal hidupnya diajarkan orang tua kepada anaknya di lingkungan keluarga. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa lingkungan keluargalah yang pertama dan utama dalam memberikan pendidikan pada anak.

2.  Pendidikan di Lingkungan Masyarakat

       Lingkungan pendidikan kedua bagi anak adalah lingkungan masyarakat yang disebut dengan pendidikan nonformal. Masyarakat merupakan sekumpulan manusia yang saling berinteraksi dalam suatu hubungan sosial. Dalam lingkungan masyarakat, tentunya anak mengalami interaksi baik langsung maupun tidak langsung. Sama halnya lingkungan keluarga, lingkungan masayarakat juga banyak memberikan pengaruh dalam membentuk karakter anak. Sebagai contoh seorang anak yang berada di lingkungan pesantren karakternya akan berbeda dengan anak yang berada di lingkungan kumuh yang rata-rata orang tuanya tidak berpendidikan tinggi. Kecuali ada usaha penuh tanggung jawab dari orang tuanya untuk memberikan pendidikan yang berbudi pekerti kepada anaknya agar tidak mencontoh lingkungan di mana ia tinggal.

3.  Pendidikan di Lingkungan Sekolah

      Sekolah merupakan lingkungan yang menyelenggarakan pendidikan secara formal yang disebut juga pendidikan formal. Pendidikan di sekolah berlangsung dengan segala fasilitas, baik sarana dan prasarana pendidikan, kurikulum sekolah, dan tenaga pengajarnya yang diatur melalui perundang-undangan negara.

       Proses pendidikan dan pembelajaran di sekolah menurut Ki Hajar Dewantara dikenal dengan sistem among sebagai patokan bagi guru dalam memberikan pendidikan bagi siswanya. Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani merupakan filosofi pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara. Ing Ngarso Sung Tolodo, Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani memiliki arti di depan guru memberi keteladan, di tengah guru memberikan semangat/motivasi kepada siswanya agar belajar dengan kesadaran tinggi dalam kemerdekaan, dan di belakang guru memberikan dorongan. Sebuah filosofi pendidikan yang sangat bagus untuk diimplementasikan guru dalam memberikan pendidikan dan pengajaran kepada siswanya.

      Ketiga konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara di atas saling berhubungan dan saling keterkaitan satu sama lainnya. Semestinya kita sebagai pelaku pendidikan sadar betul bahwa ketika kita sepakat bahwa bapak pendidikan kita “Ki Hajar Dewantara”, hari pendidikan nasional kita “2 Mei” dan logo kementerian pendidikan kita adalah logo “ Tut Wuri Handayani”, maka kita tidak perlu untuk menengok negara lain untuk menjadi contoh sistem pendidikan kita, akan tetapi cukup mengejawantahkan pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara dalam sistem pendidikan kita dengan menekan pada kesadaran belajar dan kemerdekaan belajar, maka kita akan menjadi bangsa yang kuat dan bermartabat. Karena pendidikan memengaruhi kemajuan dan martabat suatu bangsa.

C. Refleksi Kesadaran dan Merdeka Belajar dari Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara.

Jika kita jujur terhadap keadaan pendidikan di negeri kita ini, sungguh memprihatinkan. Terlebih hampir dua tahun ini proses pembelajaran di sekolah mengalami hambatan karena adanya Pandemi COVID-19 yang belum usai. Berdasarkan pengamatan banyak guru dan orang tua yang resah terhadap anaknya karena rata-rata dari mereka susah untuk belajar. Sebagian besar mungkin, anak-anak masih jauh dari kesadaran pentingnya belajar untuk masa depan mereka dalam mengangkat harkat derajat hidupnya di masa yang akan datang. Merdeka dalam belajar masih menjadi angan karena ada keterpaksaan anak-anak belajar dari orang tuanya. Atau mungkin “merdeka belajar” itu diartikan bahwa mereka bebas melakukan apapun, tetapi malas untuk mempelajari sesuatu. Ini semestinya menjadikan sebuah pemikiran bagi semua pihak.

Penulis merupakan guru di SDN 1 Banyuresmi dan Pengurus Asosiasi Guru Penulis PGRI Kabupaten Garut

10 thoughts on “PEMIKIRAN PENDIDIKAN KI HAJAR DEWANTARA

  1. Sangat inspiratif pak Pudin, terima kasih. Konsep pemikiran KHD sudah sesuai dengan budaya dan latar belakang bangsa kita, sudah seharusnya kita sebagai penerusnya mengaplikasikan setiap pemikiran sang pejuang pendidikan leluhur kita. Semua pemikiran yang beliau sampaikan harus diimplementasikan oleh kita sebagai pendidik agar merdeka belajar dapat tercapai sesuai dengan keunikan dan potensi dari setiap peserta didik yang kita among sesuai dengan kodrat alam dan zamannya.

  2. Hebat dan luar biasa pak,,pendidikan yang tri pusat itu harus dikembangkan terutama kepada orang tua murid,bahwa pendidikan itu bukan hanya disekolah saja,tapi dikeluarga juga penting,,semangatt pak,smoga makin sukses berkarya dan berdedikasi didunia pendidikan

  3. Terima kasih, bapak Pudin , M.pd.atas ilmunya yang sangat memberi pencerahan terhadap guru yang selalu bergelut dalam dunia pendidikan ,semoga berkah. Amiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *